Jumat, 09 November 2012

laporan observasi kepramukaan





   
LAPORAN OBSERVASI KEPRAMUKAAN
Ditulis guna memenuhi tugas :
Mata Kuliah  Pendidikan Generasi Muda dan Kepramukaan
Disusun Oleh :
1.    Chuswatun Khasanah         (3301411001)
2.    Bayu Larasati            (3301411002)
3.    Delia Ayunani Hapsari        (3301411003)
4.    Erlina Safitri            (3301411004)
5.    Rohyati                 (3301411006)
6.    Widi Mulatsih            (3301411007)
7.    Gyrda Ratnasary            (3301411008)
8.    Renantra Purnama Siagian    (3301411009)
9.    Eka Ayu Desetiani        (3301411010)
10.    Indriyani                (3301411013)       
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan hasil pengamatan.
Penulisan hasil pengamant ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Pendidikan generasi muda dan kepramukaan.
Dalam penulisan hasil pengamatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang terkait dalam proses observasi dan  pihak pihak yang terkait dalam menyelesaikan laporan ini.
Dalam penulisan laporan ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Semarang, Desember 2011


Penulis












BAB I
 PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam masa pergaulan di kalangan pemuda-pemudi yang kian bebas tidak menentu dan menjurus ke arah pergaulan bebas. Maka kehadiran gerakan pramuka sebagai suatu wadah pendidikan bagi anak-anak dan pemuda yang di laksanakan di luar sekolah. Karena pentingnya pendidikan yang ketiga (pramuka) maka ia tidak dapat berdiri sendiri, ia merupakan kesatuan yang utuh dari pendidikan keluarga dan sekolah. Yang satu sama lain harus melengkapi, saling mendukung dan tentunya harus saling selaras.
Gerakan pramuka adalah badan non pemerintah yang berusaha membantu pemerintah dan masyarakat, dalam membangun pemerintah dan masyarakat, khusus di bidang pendidikan melalui kegiatan pramuka dengan menggunakan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan. Agar supaya semua perangkat kerja pemerintah dan seluruh anggota masyarakat, menyadari bahwa gerakan pramuka adalah milik masyarakat, dan ikut berperan dalam pembentukan pribadi bangsa. Mengingat pentingnya kegiatan kepramukaan di lingkungan sekolah, maka suatu observasi hendaknya dilakukan supaya kita dapat mengetahui sejauh mana kegiatan  pramuka yang ada dilingkungan sekolah.
Oleh karena itu, untuk mengetahui suatu kegiatan pramuka di lembaga sekolah, diadakan pengamatan dengan cara melakukan observasi kepramukaan ke SMA Negeri 8 Semarang.


B.    Rumusan masalah
Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.    Apa saja program yang dijalankan secara rutin oleh organisasi kepramukaan yang ada di SMA Negeri 8 Semarang?
2.    Bagaimana jalannya program kerja oleh lembaga organisasi kepramukaan di SMA Negeri 8 Semarang?
3.    Bagaimana partisipasi murid murid dalam mengikuti kegiatan kepramukaan?
4.    Bagaimana struktur organisasi kepramukaan di SMA Negeri 8 Semarang?
5.    Apa saja prestasi yang pernah diraih oleh lembaga kepramukaan di SMA Negeri 8 Semarang?
C.    Tujuan
1.    Tujuan umum
a.    Untuk mengetahui organisasi kepramukaan  di SMA Negeri 8 Semarang.
b.    Mengetahui seberapa jauh partisipasi siswa dalam kegiatan pramuka.
c.    Mengetahui prestasi yang pernah diraih oleh lembaga kepramukaan di SMA Negeri 8 Semarang.
d.    Memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang diporehnya di bangku perkuliahan.
2.    Tujuan khusus
Tujuan khusus dari pembuatan laporan ini bagi penulis yaitu untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Generasi Muda dan Kepramukaan.





BAB II
PELAKSANAAN OBSERVASI
A.    Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Observasi dilaksanakan pada hari Jumat  , 9 Desember 2011  jam 08.00 -10.00 di SMA Negeri 8 Semarang.
B.    Metode Observasi
Observasi ini dilaksanakan dengan menggunakan metode pengamatan dan wawancara dengan guru serta siswa SMA Negeri 8 Semarang.
C.    Tehnik Analisis Data
Menggunakan proses tanya jawab secara langung dengan narasumber dalam mencari data atau informasi pada observasi.











BAB III
IDENTIFIKASI
3.1 ORGANISASI KEPRAMUKAAN
    Di SMA Negeri 8 Semarang organisasi kepramukaan masih aktif dan selalu berkembang dari tahun ketahun. Organisasi kepramukaan ini, memiliki program kerja yang yang di jalankan secara rutin. Diantarnya adalah :
a.    Rapat kerja yang dilakukan setiap hari selasa
b.    Pertemuan rutin untuk membahas kegiatan kegiatan yang akan dijalankan
c.    Latihan pramuka rutin yang dilaksanakan hari jumat jam 14.00-16.00
Kegiatan kepramukaan ini, di damping oleh guru pendamping dari SMA Negeri 8 Semarang, yaitu Bapak Poniman Slamet, dan Bapak Yuwono.












BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi di SMA Negeri 8 Semarang observer menyimpulkan bahwa :
1.    Kegiatan kepramukaan di SMA Negeri 8 Semarang tetap berjalan aktif dan berkembang dari tahun ketahun.
2.    Partisipasi murid murid di SMA Negeri 8 Semarang berperan aktif, walaupun itu kegiatan wajib untuk kelas X.
3.    Banyak prestasi kepramukaan  yang dihasilkan dalam berbagai lomba oleh pramuka SMA Negeri 8 Semarang.






keadaan sosial masyarakat rembang

KEADAAN SOSIAL DESA DRESI WETAN
KECAMATAN KALIORI KABUPATEN REMBANG
Disusun Guna Melengkapi Tugas Kelompok Mata Kuliah Sosiologi







Disusun oleh :
1.      Erlina Safitri                             3301411004
2.      Meydayanti Pradatin.D           3301411037
3.      Fista Novean                           3301411051
4.      Ulfa Magfiroh                         3301411151
5.      Pitri Astuti                               3301411156
6.      Isma Mufaidah                        3301411162



UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
SEMARANG
2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan hasil pengamatan.
Penulisan hasil pengamant ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Sosiologi.
Dalam penulisan hasil pengamatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan tugas ini.
Dalam penulisan laporan ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Semarang, November 2011


Penulis












BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Gersang, kering, panas. Itulah saat kali pertama kita menginjakkan kaki di Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Rona wajah kabupaten di ujung timur laut Provinsi Jawa Tengah itu kian terasa ketika melewati jalan pantai utara Pulau Jawa jalur Semarang-Surabaya saat musim kemarau. Dari jalur ini pula tampak petak-petak lahan tempat pembuatan garam yang terhampar dipinggir pantai pesisir utara. Di daerah ini, memang strategis dan berpotensi cukup besar kemaritimannya. Bentangan pantai sepanjang 65 kilometer dari Kecamatan Kaliori hingga Kecamatan Sarang merupakan kekayaan alam tersendiri yang dimanfaatkan penduduk sebagai sumber mata pencaharian.
 Salah satunya adalah desa Dresi Wetan. Desa Dresi Wetan merupakan suatu desa yang ada di Indonesia, lebih tepatnya di Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang (Kodepos : 59252), Jawa Tengah, Indonesia. Desa ini letaknya tidak begitu sulit, karena desa ini terletak dekat dari jalan pantura. Daerah ini terkenal akan petani garamnya, karena letaknya yang strategis dekat pantura. Khususnya di  kawasan tambaknya di kecamatan Kaliori ini, sehingga di kota ini dikenal sebagai salah satu penghasil garam terbesar di Indonesia.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat dirumuskan masalah-masalah yang akan dibahas pada penulisan kali ini. Masalah yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1.    Berapakah jumlah penduduk desa Dresi wetan, kec.Kaliori, Kab.Rembang ?
2.    Apa sajakah mata pencaharian penduduk desa Dresi Wetan?
3.    Bagaimanakah proses pembuatan garam?
4.    Berapakah jumlah pendapatan perkapita penduduk desa Dresi wetan, kec.Kaliori Kab.Rembang  ?
5.    Bagaimana sistem organisasi desa Dresi wetan, kec.Kaliori, Kab.Rembang ?
6.    Bagaimana sistem kepercayaan dan kebudayaan  desa Dresi wetan, kec.Kaliori, Kab.Rembang ?
1.3  TUJUAN PENULISAN
1.    Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
2.    Untuk mengetahui julmah penduduk desa Dresi Wetan, kec.Kaliori, Kab.Rembang.
3.    Untuk mengetahui jenis mata pencaharian desa Dresi Wetan.
4.    Untuk mengetahui proses pembuatan garam.
5.    Untuk mengetahui pendapatan perkapitanya.
6.    Untuk mengetahui sistem organisasinya.
7.    Untuk mengtahui sistem kepercayaan dan kebudayaannya.


1.4  MANFAAT PENULISAN
Manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
•    Menambah wawasan kita tentang jumlah penduduknya, kepadatan penduduknya dan pendapatan perkapita yang diperoleh penduduk desa Dresi Wetan, kec.Kaliori, Kab.Rembang.
•    Kita menjadi tahu bagaimana sistem organisasinya dan sistem kepercayaan maupun sistem kebudayaannya.














BAB II
PEMBAHASAN


2.1 JUMLAH PENDUDUK
Dresi Wetan merupakan desa yang terletak di kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Desa ini termasuk dalam golongan desa yang besar,karena jumlah penduduknya yang banyak, yaitu dengan jumlah penduduk 1144 orang , yang terdiri dari 358 kepala keluarga.

2.2 MATA PENCAHARIAN
            Di daerah ini, memang strategis dan berpotensi cukup besar kemaritimannya. Bentangan pantai sepanjang 65 kilometer dari Kecamatan Kaliori hingga Kecamatan Sarang merupakan kekayaan alam tersendiri yang dimanfaatkan penduduk di salah satu desa di kecamatan Kaliori, yaitu desa Dresi Wetan sebagai sumber mata pencaharian. Karena keadaan geografisnya yang memungkinkan, yaitu pantainya yang sangat luas, para penduduk memanfaatkan keadaan alam yang telah ada untuk mencari nafkah. Dengan cara penduduk menjadi petani garam di saat musim kemarau. Yaitu dengan cara mengolah lahan garam dari air garam diubah menjadi garam yang berkualitas yang proses pengolahannya berlangsung selam dua hari, kemudian garam yang sudah jadi tersebut dijual ke tengkulak-tengkulak dan ke pabrik-pabrik. Dan menjadi petani sawah disaat musim penghujan. Yaitu mengolah lahan sawah tanaman padi.

2.3 CARA PEMBUATAN GARAM
Adapun  proses pembuatan garam tersebut ialah sebagai berikut:
1.    Menguras
Menguras disini ialah membersihkan lahan (tambak) dari sisa-sisa garam yang ada.

2.    Nyelender
Nyelender ialah proses pempadatan lahan (tambak), sebelum proses pengisian air garam pada tambak garam.

    
Proses Nyelender
3.    Pengisian
Pengisian air garam pada sawah garam yang telah di slender ( pemadatan ).


Pengisian

4.    Pemindahan lahan
Pemindahan lahan ini dilakukan secara berulang karena untuk menghasilkan garam, air laut harus memiliki kadar setinggi 20. Sehingga dilakukan pemindahan lahan. Awalnya air laut memiliki kadar 0. Pemindahan lahan di lakukan sebanyak 4 kali. Dan untuk mengetahui kadar air dilakukan pengukuran dengan alat yaitu thermometer.


Setelah mencapai kadar 20, air itu lalu mengkristal menjadi butiran-butiran garam. Dan bias dilakukan proses selanjutnya.

5.    Pengerukan.
Pengerukan ialah proses pengambilan garam dari lahan. Setelah melewati tahap-tahap sebelumnya.



Setelah dilakukan proses pembuatan garam sebelum garam di taruh di gudang. Garam tersebut diletakkan di dekat tambak dahulu.


   
Garam disisi tambak


Setelah pengumpulan garam di sisi tambak barulah garam disimpan di gudang sebelu garam itu dijual ke tengkulak-tengkulak dan ke pabrik-pabrik.


        
Garam di simpan digudang

2.4 PENDAPATAN PERKAPITA
Kota Rembang pantas disebut sebagai Kota Garam karena produksi garam per tahunnya cukup melimpah.Salah satu desa penghasil garam di Rembang ini adalah Desa Dresi Wetan, Kecamatan Kaliori. Bentangan pantai sepanjang 65 kilometer dari Kecamatan Kaliori hingga Kecamatan Sarang.  Bahkan, produksi garam lokal mampu mencukupi kebutuhan bahan baku garam industri empat perusahaan garam konsumsi lokal sekitar 22.820 ton/tahun atau sekitar 20 – 25 ton / bulan.Tapi sayangnya  Desa Dresi Wetan termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah, karena pendapatan perkapitanya Rp.1.200.000,00 per bulan, karena harga garam yang murah tidak sebanding dengan tenaga yang digunakan untuk mencari garam tersebut. Kerena teknologi yang digunakan belum canggih, dan masih terlalu tradisonal, maka penghasilan garam yang sebenarnya tidak terbatas menjadi sedikit. Dan para penghasil garam masih sangat mengandalkan sinar matahari untuk mengkristalkan air garam sehingga penghasilan garam tidak bisa maksimal.Sehingga penduduk sekitar belum merasakan fasilitas yang memadai seperti penduduk yang berada dalam lingkungan berpendapatan menengah ke atas. Terbukti penduduk desa Dresi Wetan masih tradisional, dengan rakyatnya yang masih sangat sederhana, sehingga sebagian besar pola fikir mereka belum begitu modern. Dan pemikiran mereka tentang pendidikanpun masih minim, sehingga secara tidak langsung generasi penerus tidak bisa mengembangkan penghasilan garam secara maksimal karena penggunakan alat untuk menghasilakn garam diturunkan secara turun temurun. Faktor lain yang menyebabkan penduduk desa Dresi Wetan termasuk golongan menengah kebawah, selain pendapatannya yang tidak begitu besar, jumlah penduduk desa Dresi Wetan yang termasuk banyak.

2.5 SISTEM ORGANISASI
Penduduk desa Dresi Wetan ini termasuk klasifikasi sosial yang bernama paguyuban, karena penduduk Desa Dresi Wetan ini saling kenal mengenal secara dekat. Penduduk desa Dresi wetan memiliki suatu sistem keorganisasian yang dilakukan oleh remaja, dan juga orang tua. Organisasi yang dilakukan oleh remaja desa  Dresi Wetan antara lain, organisasi karang taruna, organisasi remaja masjid, dan organisai keolahragaan remaja desa Dresi Wetan. Misalnya dalam hal remaja masjid, penduduk desa Dresi Wetan ini selalu mengajarkan adik-adik TPA setiap hari Jumat. Para anak-anak kecil pun dilatih untuk bermain sepak bola oleh para remaja setiap hari Jumat. Dan selebihnya para remaja lah yang berlatih sepak bola.

2.6 SISTEM KEPERCAYAAN DAN KEBUDAYAAN
Desa Dresi wetan adalah desa yang  mayoritas penduduknya adalah beragamakan islam, penduduk desa ini tergolong penduduk desa yang masih tradisional, yaitu terbukti desa ini mempunyai berbagai macam kebudayaan atau kebiasaan adat, antara lain kebudayaan sedekah bumi. Byasanya pada sedekah bumi ini mereka menanggap ketoprak, dan dangdutan. Biaya yang dihabiskan untuk acara ini yaitu sebesar  Rp. 25 juta. Dan biaya tersebut di dapatkan dari urunan warga. Selain sedekah bumi, Desa Dresi pun memiliki kebudayaan houl. Acara houl ini berlangsung selama 5 hari. Dan menghabiskan biaya sebanyak Rp. 40 jt. Biaya tersebut pun di dapatkan dari urunan dari warga pula, ujar Pak Samuri selaku kepala dusun tersebut.





















BAB III
PENUTUP


3.1 KESIMPULAN
           
           
3.2 SARAN